Prila






         Amateur Blogger

May 19, 2007

Polisi Kacau atau Saya Kacau?

Filed under: My Blog — prilaquin @ 5:43 am

Sebagian besar teman-teman saya atau orang yang pernah melihat saya menyetir pasti menyatakan kalau saya adalah orang yang kalem dalam menyetir, sabar, dan tidak pernah cari masalah. Saya sendiri sebenarnya mengakui itu. Tetapi belakangan ini baru saya sadari bahwa ternyata saat saya sedang menyetir sendirian, tidak ada orang yang duduk di samping atau di belakang saya, saya malah cenderung lebih nekad dan suka memperpanjang masalah di jalan.

Saya tidak terlalu suka (kalau tidak dapat dikatakan benci) mendengar bunyi klakson. Saat sedang berhenti di lampu merah dan orang di belakang saya langsung memencet klakson saat lampu berubah menjadi hijau (kadang malah masih di kuning, belum sampai ke hijau), urat di otak saya mungkin ada yang langsung mem”bengkok” akibat dari bunyi klakson tersebut. Biasanya kalau kejadian itu terjadi saat saya sedang menyetir sendirian, saya malah sengaja untuk tidak menjalankan mobil saya sampai 1-2 menit kemudian biar orang di belakang saya itu puas memencet klakson ;) Atau bila bunyi klakson sudah berhenti (tanda si pengemudi sudah “puas” atau malas memencet klaksonnya lagi) atau mobil tersebut sudah berhasil mendahului saya baik dari sebelah kiri maupun kanan, barulah saya menjalankan mobil saya.

Pernah suatu saat, saya sedang menyetir mobil akan keluar dari jalan sempit yang sebenarnya cukup untuk 2 mobil tetapi menjadi tidak cukup karena samping kiri kanannya banyak motor parkir dan gerobak tukang makanan yang mangkal. Mobil saya sudah hampir berbelok ke jalan besar ketika ada angkot yang berbelok ke arah mobil saya. Otomatis kami berdua tidak bisa maju, saya tidak bisa keluar ke jalan besar dan dia tidak bisa masuk ke jalan sempit. Sebenarnya di belakang saya ada area yang agak luas. Saya hanya perlu mundur sekitar 2 meter supaya angkot itu bisa masuk. Tetapi karena saya merasa posisi saya yang benar dan angkot itu yang mau berbelok mendadak, saya ngotot tidak mau mundur. Dalam hati saya bergumam, ’siapa suruh mau langsung belok aja.. kan bisa tunggu sebentar sampai saya ke jalan besar baru deh masuk..’ Saya pun memberi kode dengan tangan saya supaya dia mundur supaya saya bisa lewat. Sopir angkot itu berteriak menyuruh saya yang mundur. Saya ngotot diam di tempat, padahal saya tau kondisi jalan raya di belakang angkot itu cukup ramai dan akan sangat sulit bagi dia untuk mundur. Yah, begitulah ‘tabiat’ saya kalau sedang menyetir sendirian, sering keras kepala. Sekitar 3 menit saya diam di tempat, ada bapak-bapak yang menghampiri saya dan bilang, “Dik, tolong mundur sebentar dong. Angkotnya saya suruh masuk ke jalan ini buat ngangkut orang sakit.” Wah, ternyata… Baru deh saya rela mundur dan membiarkan angkot itu masuk.

Di lain waktu, ada kejadian “lucu” di depan ITC Roxy Mas yang jalanannya sedang kacau parah karena pembangunan jalan (entah apa) yang tidak selesai-selesai. Jalanan agak merayap saat itu. Saya sedang menyetir, merayap mengikuti arus perlahan-lahan. Mungkin saya terlalu perlahan. Kenek bus di belakang saya tidak sabaran, turun mengetuk kaca mobil saya dan meminta supaya saya jalan lebih cepat. Otak saya kembali “bengkok”, saya malah memberhentikan mobil saya dan tidak jalan sama sekali. Kenek bus itu mulai naik darah dan mengetuk kaca saya terus. Saya tetap diam di tempat dan pura-pura tidak mendengar sambil menggoyang-goyangkan kepala saya mengikuti irama musik di mobil saya. Sudah ada sekitar 10 meter area kosong di jalanan depan saya dan saya tetap belum menjalankan mobil. Kenek bus menghampiri bagian samping tempat saya menyetir, menggebuk kap depan mobil dengan tangannya sambil teriak ngomel-ngomel. Tau apa yang saya lakukan? Saya jalankan sih mobil saya, tetapi sebelumnya saya lihat dulu wajah si kenek dan saya julurkan lidah saya. Haha, kenek itu langsung berhenti berteriak dan menggebuk kap mobil loh. Hm.. mungkin dia pikir saya gila :D Mungkin teman-teman saya tidak percaya saya bisa seperti itu, karena seperti saya bilang tadi, saya suka nekad dan “iseng” hanya bila saya sedang menyetir sendirian.

Semua yang saya ceritakan di atas baru prolog ;) Ada kejadian yang menurut saya sangat menarik yang saya alami dan menyebabkan saya sangat ingin menulis blog ini. Sayang kalau cerita ini tidak dibagi-bagi. Hari itu, 17 Mei 2007, tanggal merah. Saya bekerja di restaurant di kawasan Kelapa Gading yang hari itu juga sedang mengadakan acara puncak Jakarta Fashion and Food Festival. Alhasil restaurant tempat saya bekerja pun hari itu sangat-sangat ramai. Pencapaian omset di hari itu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah berdirinya restaurant itu sejak tahun lalu. Hari yang cukup melelahkan karena selain ramai, 3 orang staff saya tidak masuk. Ditambah lagi ada penyumbatan di saluran drainage kitchen yang mengakibatkan luapan air, melengkapi kelelahan dan “penderitaan” saya di hari itu. Saya baru bisa meninggalkan restaurant hampir jam 12 malam untuk pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, sekitar jam setengah satu malam, saya melewati lampu merah di jalan Juanda. Saya mengarah ke kanan, ke arah Gajah Mada dan di titik ini lah ‘kejadian’ ini terjadi. Lampu sudah hijau untuk ke arah lurus, masih merah untuk ke kanan. Saya tidak menyadari itu, saya melewati lampu merah dan berbelok ke kanan. Tetapi saya sempat melihat mobil-mobil berjalan ke arah yang menghalangi saya untuk belok kanan. Saya baru sadar kalau lampu untuk ke kanan masih merah. Saya menghentikan mobil saya di posisi mobil saya sudah melewati tiang lampu merah. Di sebelah kanan saya pos polisi lengkap dengan 3 motor polisi gede di depannya. Nah, benar kan.. satu polisi menghampiri saya dengan motor itu, meminta saya untuk belok ke kanan dan meminggirkan mobil saya.

Biasa lah… periksa SIM dan STNK dan percakapan antara saya dan sang polisi. Sepertinya badan yang cape membuat otak saya juga error dan bicara asal-asalan plus agak ‘nyolot’. Kurang lebih begini lah percakapan kami..
“Sudah tau kan apa salahnya?”
“Iya Pak, saya tau. Saya minta maaf Pak, saya salah liat lampu ijo buat yang lurus.”
“Ya sudah, lain kali jalankan peraturan. Sekarang saya buatkan surat tilangnya.” (sambil menulis-nulis)
“Ngga bisa dibantu aja Pak?” (sambil cari-cari dompet). Oh ya, ada yang lupa saya ceritakan.. Saya sedang dalam puncak “pelit” dan target saya di bulan ini adalah tidak mau mengeluarkan uang sama sekali kecuali untuk bensin dan jalan tol karena bulan lalu saya baru ‘habis-habisan’ mengeluarkan uang untuk jalan-jalan ke Bali. Niat saya saat itu untuk si Polisi pun tidak mau mengeluarkan uang lebih dari 10.000 rupiah.
“Dibantu bagaimana maksudnya ya?” (pura-pura tidak mengerti)
“Yah.. Bapak yang bayarkan saja lah dendanya, tapi saya cuma punya uang segini.” (sambil menunjukan selembar 10ribuan)
“Ya udah, mbak bayar aja tuh di pengadilan di depan sana nanti tanggal 29″ (IlFeel abis deh tuh polisi liat duit 10ribuan. Iya lah, naek motor gede, depan pos polisi, banyak temennya… mana mau 10.000)
“Yaelah Pak.. di sono juga buntut-buntutnya saya bayar juga ke calo. Udah lah Pak, saya baru pulang kerja nih.” (dalem hati mikir, apa hubungannya ya..)
“Saya malah masih harus kerja sampe besok pagi” (mulai menunjukan tampang kesal)
“Itu sih urusan Bapak… Yang jelas, tolong dibantu aja lah Pak”
“Ya udah, mbak bayar aja sama yang di pengadilan. 10-15ribu mau di sana.” (udah kesel banget)
“Emang bisa Pak saya bayar sekarang juga di sono?” (mengajukan pertanyaan bodoh yang saya udah tau jawabannya)
“Ngga sekarang. Tunggu nanti tanggal 29″
“Tanggal 29 saya belum tentu ada di Jakarta Pak” (bohong banget, memangnya saya mau kemana…)
“Itu urusan mbak, bukan urusan saya.” (hahaha, saya dibalas)
“Bapak bener-bener ga binta bantu saya?”
“Kalau semua masyarkat saya bantu ya jadinya ngga bener”
“Yah.. alhamdulilah sih Pak kalau semua masyarakat bapak perlakukan seperti ini. Tapi saya yakin ngga semua masyarakat dibeginikan sih.”
Polisi itu diam sambil terus menulis-nulis.

Tiba-tiba ada satu mobil keren gaul yang melakukan pelanggaran persis seperti yang saya lakukan (hm.. berarti mungkin memang lampu merah di situ menyesatkan). Dia diberhentikan oleh motor gede yang lain di depan mobil saya. Wah, 2 motor gede dan 2 opsir polisi yang menghampiri mobil itu. Polisi yang sedang menilang saya seperti terpikir satu hal. Dia menghampiri rekannya sebentar di dekat mobil depan untuk mengatakan sesuatu, baru kemudian kembali ke dekat mobil saya untuk meminta saya menandatangani surat tilang. Hm.. saya “mencium” bau tidak benar. Saya tidak langsung menjalankan mobil saya saat polisi yang menilang saya sudah pergi dengan motor gedenya. 1 menit kemudian pengendara mobil depan keluar dari mobil mengikuti satu orang polisi menyebrang jalan menuju ke arah pos. Satu orang polisi tetap di tempat. Saya tetap tidak menjalankan mobil saya. Sebenarnya badan saya sudah cape sekali saat itu. Tetapi anehnya rasa cape itu malah tidak terlalu saya rasakan saat itu dan rasa kesal karena ditilang malah hilang. Saya merasa seperti sedang main game :) Saya berpikir, saya sudah pasti akan mengeluarkan uang untuk menebus SIM saya nanti. Saya tidak mau keluar uang sia-sia, setidaknya saya harus puas dengan “game” yang saya mainkan sekarang.

Sekitar 5 menit kemudian saya masih di situ. Polisi satunya akhirnya membawa motor gedenya meninggalkan tempat itu. Saya tetap menunggu.. 5 menit.. 7 menit.. 10 menit.. Polisi yang tadi menyeberang duluan kembali mengambil motornya dan membawanya ke pos. Saya nyalakan mesin mobil saya (yang memang sudah sempat saya matikan). Tidak, saya tidak pulang.. saya hanya memajukan mobil saya mendekati mobil di depan saya untuk kemudian ‘parkir’ lagi di situ. Cukup lama saya menunggu. Bisa menebak apa yang saya tunggu? Saya mau menunggu pengendara mobil itu kembali ke mobil dan saya akan menghampiri pos untuk minta izin melihat SIM pengendara mobil tadi apakah benar-benar mereka tahan dan tilang. Iseng? Yah.. mungkin..

Hampir setengah jam saya menunggu. Teman si pengendara yang duduk di samping mobil depan tadi pun sepertinya sudah mulai tidak sabaran. Dia keluar dari mobil dan melihat ke arah pos. Akhirnya ada juga yang keluar dari pos, tetapi bukan si pengendara. Polisi penilang menghampiri mobil itu, kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya. Wah, saya bingung juga.. apa yang harus saya lakukan berikutnya.. Saya belum rela pulang begitu saja. Akhirnya.. saya keluar dari mobil, mengunci mobil saya, dan menyebrang menghampiri pos. Saya berdiri di depan pos di dekat motor-motor gede parkir. Yang saya takuti saat itu bukan dimaki-maki polisi, diisengin pengamen atau ditodong penjahat. Yang saya takuti cuma satu.. jangan sampai ada orang yang kenal dengan saya lewat jalan itu saat itu. Bisa malu saya kelihatan berdiri di depan pos polisi malam-malam buta ;) Saya yakin pengendara mobil tadi masih ada di dalam pos. Sambil terus menunggu, iseng saya hampiri motor-motor gede yang parkir. Saya ambil handphone saya, saya lihat satu persatu nomor-nomor motor mereka sambil berpura-pura mengetikan sesuatu di HP saya. Jujur saya tidak tau juga apa manfaatnya berbuat seperti itu. Saya ingin sekali mengirim SMS ke teman-teman dekat saya untuk menceritakan sedang apa saya saat itu. Tapi niat itu saya batalkan. Saya takut mereka jadi khawatir, padahal niat saya hanya berbagi kegembiraan. Saya menikmati sekali pemainan saya malam itu :)
Tidak lama kemudian, mobil “korban” tadi muncul dan parkir tepat di samping pos. Polisi yang menyetirnya tadi masuk lagi ke dalam pos. Saya tidak mau berdiri jauh dari mobil itu. Saya bisa melihat teman si pengendara sudah sangat tidak sabar. Jelas sekali saya melihat dia melirik berkali-kali ke jam tangannya karena kaca mobil itu dibuka. Cukup lama saya berdiri di situ. Akhirnya 2 orang polisi menghampiri saya, salah satunya adalah si penilang mobil depan tadi.
“Ada yang bisa saya bantu mbak?” (wah nada bicaranya sangat ramah)
“Oh, tidak Pak. Tidak apa-apa, saya cuma mau tau aja apakah benar semua mobil yang salah ditilang, bukan cuma saya.” (sambil tersenyum)
“O iya mbak, pasti kita tilang.”
“Wah, bagus kalau begitu. Seneng saya kalau memang semua polisi di sini taat peraturan”
“Iya, buku tilangnya tadi dibawa sama orang yang nilang mbak. Kita lagi nunggu dia” (memangnya buku tilang cuma ada satu ya tiap pos?)
“Oh ya udah, ngga apa-apa kok Pak, saya tunggu.” (kenapa saya yang harus tunggu ya..)
Satu polisi lain mendekat. Polisi yang tadi berkata ke temannya “Ditilang aja tuh.” (kok pake kata ‘aja’ ya?)
“Udah ada belum buku tilangnya?” (bertanya dengan cepat dan suara keras seakan-akan baru sadar kalau “hampir” ’salah bicara’)
Si polisi yang baru datang tadi pergi lagi. Tapi sangat ramah loh polisi yang bersama saya saat itu. Dia malah mengajak saya ngobrol, bertanya dimana rumah saya, kerja di mana, dll dsb. Dan saat tau kalau saya kerja di restaurant dia malah bercerita kalau dia dulu pernah jadi koki, tapi nyasar jadi polisi.
“Mbak jangan salah sangka. Mobil ini prosesnya lama karena kita lagi nunggu balasan sms online dari Polda mengenai status STNKnya karena kita lihat ada kejanggalan. Status STNK itu bisa dicek melalui sms online loh mbak, mbak lihat deh” (sambil menunjukan handphone nya yang memang ada tulisan mobil nomor berapa, STNK tanggal berapa, dll dsb, saya tidak terlalu membacanya). “Mbak juga bisa cek online STNK mbak kalau mau. Tapi ya kadang begitu, responnya suka lambat. Nah mobil yang itu kita sms untuk cek status, belum ada jawabannya sampai sekarang makanya masih kita tunggu.”
“Ooo begitu ya Pak. Tapi kok saya ditilang cepat sekali, kenapa yang ini lama ya Pak?”
“Ya itu tadi, karena STNKnya ada yang aneh, dan kita lagi nunggu data dari Polda”

Polisi yang tadi menilang saya datang dengan motor gedenya. Dia bertanya ke polisi yang sedang mengobrol dengan saya, “Ada masalah apa?”
“Ngga… ini.. lagi nunggu jawaban dari Polda.. lama belum masuk”
Tidak dijawab.. cuma diam beberapa saat lalu pergi lagi. Akhirnya si pengendara mobil “korban” keluar dari pos dengan muka entah dilipat berapa. Kesal sekali sepertinya dia keluar dengan membawa surat tilang berjalan ke mobilnya. Polisi yang mengobrol dengan saya mengatakan kepada saya kalau prosesnya sudah selesai. Saya masih iseng bertanya, “tapi dia bener-bener ditilang ngga Pak?”
“Benar kok mbak, itu sudah proses resmi” (sambil menghampiri mobil tadi dan meminta supaya pengendaranya menunjukan surat tilang yang dia terima). Pengendara itu benar-benar kesal. Saya yakin dia anak muda gaul yang malas ditilang dan niat sekali “berdamai” dengan si polisi. Dia melambaikan surat tilang itu ke arah saya sambil teriak, “Udah lah lu percuma.. Sama! Gue juga ditilang!” Hahaha, maap bung.. bukan maksud saya untuk merepotkan anda, anda cuma “korban” ;) Mungkin dia berpikir saya tetap menunggu sekian lama di sana supaya SIM saya tidak jadi ditilang. Bukan kok, bukan itu tujuan saya (tapi kalau iya, bagus juga sih). Saya cuma tidak rela saja kalau si polisi berhasil mendapatkan uang dari orang itu.

Belum cukup sampai di situ, saya tanya lagi si polisi tadi, “maaf Pak, boleh saya lihat SIM orang yang ditilang barusan. Apa SIM nya benar-benar ditahan?” Hebat sekali loh polisi itu masih tetap sabar dan ramah, mengajak saya untuk ikut masuk ke dalam pos. Dia meminta SIM orang tadi ke temannya, tetapi temannya malah memberikan STNK. STNK itu ditunjukan kepada saya dan memang yang tertulis di sana sesuai dengan merk, warna, dan nomor mobil tadi.
“Kok STNKnya yang ditahan ya Pak, bukan SIMnya?” (kasian orang tadi, mungkin dia lupa bawa SIM atau tidak punya SIM..)
“Kan pilihannya salah satu, SIM atau STNK. Mbak kalau mau SIMnya ditukar dengan STNK untuk ditahan juga boleh.” Ada 3 orang polisi di situ yang berusaha menjelaskan dan semuanya berbicara dengan sangat ramah, wow.. Tapi entah kemana polisi yang menilang saya tadi, mungkin tekanan darahnya naik karena saya dan tidak mau kembali ke situ sebelum saya pergi ;) “Ya sudah lah Pak, terima kasih ya.. Saya senang sekali, ternyata memang polisi disini semuanya mengikuti prosedur” (sambil tersenyum lebar)

Bah, apa peduli saya polisi mau ikut prosedur atau tidak.. Jelas sekali mereka ‘terpaksa’ ikut prosedur malam itu. Tetapi saya cukup yakin polisi-polisi dalam pos itu (kecuali yang menilang saya) tidak terlalu kesal dengan saya. Paling mereka hanya geleng-geleng kepala dan berpikir kalo saya ceweq nekad (atau mereka pikir saya wartawan? haha). Tetapi saya tidak bohong waktu saya bilang ’saya senang sekali’. Saya benar-benar senang saat itu, lupa dengan cape saya di tempat kerja, lupa dengan perasaan kesal saat awal ditilang. Hm.. mungkin otak saya benar-benar sedang kacau malam itu. Kalau dipikir lebih dalam, tidak ada untungnya kan saya berbuat seperti itu, hanya memperlambat perjalanan pulang saya (saya baru sampai di rumah jam 2 pagi). Mungkin perasaan saya saat itu bisa dibandingkan dengan orang yang membeli coin di TimeZone untuk main game, menyelesaikan game itu sampai finish dan menang. Mungkin malah lebih senang daripada itu.. Mungkin saya memang kacau, tapi yang jelas saya melanjutkan perjalanan pulang saya dengan tersenyum puas.. sangat puas. Buat saya ini suatu ‘pengalaman’ yang sangat menarik dan mengesankan.