Tidak Jelas
Suasana hati yang tidak baik seharian penuh sejak terbangun.. Pernahkah kalian mengalami hal itu? Ini yang saya rasakan hari ini. Dan hal ini yang memicu saya untuk mengetik blog ini di tengah-tengah jam kerja saya sekarang (Sst, semoga tidak ada salah satu dari BOD tempat saya bekerja yang kebetulan membaca blog ini). Suasana hati yang tidak menyenangkan bisa timbul dari sesuatu yang terjadi (atau malah tidak terjadi?) di malam sebelum kita tidur. Hm, mungkin beberapa orang “dewasa” akan mengasumsikan lain dari arah bicara saya karena ada kata “malam” dan kata “tidur” di sini. Tidak, bukan ke sana arah saya karena saya belum se”dewasa” itu.
Sesuatu atau seseorang yang mampu merusak suasana hati kita hampir dapat dipastikan adalah berupa sesuatu atau seseorang yang kita sayangi. Saya hanya akan membahas tentang ‘orang’ saja saat ini karena memang saya tidak sedang ‘kehilangan’ suatu benda. Siapa sih orang ini, yang punya kemampuan sehebat itu untuk merusak apa yang seharusnya hanya diri kita sendiri yang bisa mengaturnya?
Someone who is very important to us; a V.V.I.P of course.
Someone we love? Love of our life?
Wah, dua tanda tanya di atas itu jelas memiliki arti yang berbeda. Akan saya persempit saja tanda tanya pertama dengan kata “friendship” dan tanda tanya kedua dengan kata “love”.
What is the difference between love and friendship?
Dulu saya akan menjawab pertanyaan ini dengan sangat singkat,
‘Physical touch’, that’s all.
Saat ini mungkin saya menemukan suatu jawaban yang lain. Btw, saya tidak setuju dengan kalimat klise “cinta tidak harus memiliki” karena
If love doesn’t own and it’s ok, then it changes to friendship.
If love is BLIND, then friendship still has at least one EYE which can see clearly.
Seseorang yang baru saya kenal, pernah bercerita kepada saya saat saya pertama kali bertemu dengannya. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa pacarnya telah membohongi dia dengan suatu cerita yang tidak masuk akal. Tetapi saat pacarnya menceritakan kebohongan itu, dia hanya mengiyakan dan pura-pura percaya. Saya hanya tersenyum saat dia menceritakan itu. Saya tau bahwa orang yang dia ceritakan memang berbohong karena orang itu adalah teman saya dan saya tau jalan cerita sebenarnya. Is that love? And is it blind? Masalahnya, apakah orang yang dia ceritakan itu benar-benar pacarnya? Ya menurut dia, tetapi tidak menurut teman saya. Apakah dia tau itu? Logika saya mengatakan bahwa dia tau. Dia hanya tidak mau tau, membutakan matanya, make himself blind.
Saat berikutnya saya bertemu dengan dia, dia mengatakan bahwa “pacar”nya (teman saya) itu tidak terlalu memperdulikan dia lagi sekarang karena mungkin dia sudah tidak terlalu dibutuhkan. Sekali lagi saya hanya bisa tersenyum karena lagi-lagi saya tau jalan cerita sebenarnya. Dan saya hanya bisa berbicara dalam hati, “Come on, open your eyes! Kalau memang dari dulu dia hanya mencari kamu saat dia butuh, dan kamu tau itu.. Untuk apa sih dilanjutkan..” Tapi saya tidak mengatakan itu karena saya tau dia masih belum melepas “love is blind”nya dari dirinya. Entah kapan dia relakan ‘love’ yang HARUS memiliki itu dan mengubahnya menjadi ‘friendship’ (atau malah ’stranger’).
Beda dengan saat saya bisa melihat karena saya masih memiliki setidaknya “satu mata” untuk melihat dengan jelas bahwa dalam status friendship pun ada masanya saya dicari hanya pada saat saya dibutuhkan padahal orang itu saya anggap sebagai VVIP. Tetapi karena ini terjadi dalam status friendship yang tidak buta, saya tidak mungkin tidak mau tau akan sikapnya yang sudah ditunjukan dengan sangat jelas. Kebohongan tidak masuk akal apapun yang telah dia ceritakan sebagai alasannya, mungkin sikap saya sama seperti cerita ‘love’ di atas yang hanya mengiyakan dan berpura-pura percaya.. tetapi perbedaannya adalah mungkin saya tidak akan melanjutkannya. Kalau memang harus saya lepaskan, akan saya lepaskan. Apalagi seperti yang pernah saya bahas di blog saya dulu, saya tidak pernah percaya dengan kata ‘forever friend’.
Hmh.. apa sih sebenarnya hubungan antara cerita saya tentang love.. friendship.. dan suasana hati yang ada di paragraf awal blog ini.. Pasti ada hubungannnya. Mungkin hanya saya yang tau.. Mungkin juga beberapa orang yang cukup mengenal saya bisa menghubung-hubungkannya.
Apa sih yang merusak suasana hati saya sebenarnya? Just a phone call before I slept last night (which didn’t exist actually?). Haha, makin tidak ada hubungannya.. Makin tidak jelas? Yah inilah yang membuat saya menggemari penulisan blog. Saya tidak perlu menulis dengan jelas, saya tidak perlu tau apakah tulisan saya dibaca.. Yang penting saya mengerti, saya menulis, dan saya puas.