Prila






         Amateur Blogger

October 19, 2006

Marahnya besok-besok aja

Filed under: My Blog — prilaquin @ 11:53 pm

Pernah merasa sangat marah kepada seseorang atau karena suatu hal? Kalau ada yang menjawab dengan kata “tidak” bahkan dalam hatinya, maka orang itu adalah seorang pembohong ulung yang mampu bohong bahkan kepada dirinya sendiri. Marah itu sesuatu yang manusiawi dan tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi alangkah baiknya bila si marah itu bisa kita jaga agar tidak keluar seenaknya.

Anyone may become angry, that is natural. But to be angry with the right person, at the right degree, on the right time, for the right purpose, and in the right way.. that’s what we should learn.

Mudah untuk mengucapkannya, tetapi mungkin sukar untuk menjalankannya. Marah itu sesuatu yang timbul dari dasar hati, sangat sulit untuk mengontrolnya. Memang benar, tapi ada satu hal yang mungkin kita lupakan. Kata ilmu pengetahuan, otak yang mengirimkan perintah ke mulut untuk mengatakan sesuatu, bukan hati. Jadi, masih bisa dong seharusnya kita kontrol. Saya pernah menjumpai sebuah kalimat yang sangat baik untuk kita ingat saat kita marah.

Speak when you are angry and you will make the best speech you will ever regret.

Cukup sering saya menyesali apa yang telah saya ucapkan saat saya marah. Akan saya ceritakan salah satu saja di sini. Bukan sesuatu yang sangat besar yang mengubah hidup saya atau sejenisnya.. Hanya pengalaman kecil semasa SMA, tetapi entah mengapa saya masih ingat kejadian itu sampai sekarang. Waktu SMA, saya “menjabat” sebagai sie olahraga OSIS dan kapten team volley putri. Jabatan kecil, tetapi kadang membuat saya cukup “sibuk”. Saya lupa apa yang membuat saya sangat sibuk saat itu, tetapi itu pasti ada hubungannya dengan volley. Ada suatu “pekerjaan” yang belum selesai (saya lupa apa itu) dan teman-teman dekat saya mengatakan seharusnya saya sudah mengerjakan itu karena itu kan memang tugas saya. Mereka menyebut nama senior saya (yang “memangku jabatan” sebelum saya) dan mengatakan bahwa dulu dia (si senior) bisa melakukan tugas itu dengan mudah. Saya marah dan kesal sekali saat itu dan tanpa pikir panjang langsung mengatakan, “Dia punya teman yang selalu bisa bantu dia, sedangkan saya sama sekali tidak punya teman yang bisa bantu saya.” Setelah itu langsung saya tinggalkan mereka ke kantin sekolah.

Duduk di kantin, 1 menit pertama saya masih kesal dan marah. Tapi menit, jam, dan hari-hari berikutnya saya menyesali apa yang telah keluar dari mulut saya. Kalau saat itu saya beri kesempatan kepada otak saya untuk berpikir, pasti si otak akan bilang, “Please deh.. masalah kecil gitu loh.. masalah voli doank.. Apa hubungannya coba sama bertemen? Mereka tuh udah banyak nolong di laen hal. Lagian buat masalah ini pun belom tentu mereka ngga mau bantu.. tapi pernah minta bantuan ngga?” Nah, kalau otak diberikan kesempatan, pasti kata-kata saya yang tidak perlu itu bisa dicegah untuk keluar. Akibatnya, cukup malu juga kan saya mencoba untuk “berbaikan” lagi dengan mereka. Apalagi say sorry itu kan bukan “SMA style” :) Untungnya, tidak perlu waktu lebih dari seminggu untuk bisa “berbaikan” lagi dengan mereka dan latihan volley juga yang jadi sarananya. Bagusnya posisi saya di team volley itu sebagai tosser yang “mewajibkan” saya “berkomunikasi” dengan teman satu team dan itu bisa saya jadikan “alasan” untuk berbicara (memangil nama) dengan mereka. (Untuk 3 orang teman dekat saya di SMA yang masih ingat kejadian ini dan kebetulan membaca.. sorry for the old time, hehe).

Bagaimana caranya kita bisa memberikan kesempatan kepada otak kita untuk menjaga agar mulut kita tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna? Tidak terlalu sulit jika dibiasakan. Ada kalimat yang mungkin sering kita dengar, tapi menurut saya masih cukup mujarab.

When you are angry, count to ten before you speak. If you are very angry, count to a hundred.

Kalimat bodoh? Atau terlihat bodoh jika dilakukan? Ok, saya coba kalimat dan cara lain.

When anger rises, think of the consequences.

Gabungkan kalimat ini dengan kalimat pertama dengan warna biru di awal blog ini. Berarti yang harus kita pikirkan saat kita akan mengeluarkan kata-kata saat kita marah adalah:
1. Angry with the right person?
Apa kita yakin kalau orang itu yang membuat kesalahan? Kadang bukan orang itu loh pelaku sebenarnya..
2. Angry at the right degree?
Pikir dulu kesalahannya besar atau kecil, setelah itu cocokan deh berapa kadar kemarahan yang tepat untuk tingkat kesalahan seperti itu.
3. Angry on the right time?
Lihat dulu sekitar, waktu dan suasananya pas atau tidak untuk marah-marah.
4. Angry for the right purpose?
Ada hasilnya tidak ya kira-kira kalau kita marah untuk itu? Memang sih kadang-kadang marah itu perlu untuk memperbaiki seseorang atau sesuatu.
5. Angry in the right way?
Ini yang agak susah.. cari cara marah yang paling pas. Lebih baik diomongin pelan-pelan, disindir, dibentak dikit, atau dimaki-maki habis-habisan ya?
6. Terakhir.. ya itu tadi.. Think of the consequences.
Kira-kira setelah kita marah ini akibat kedepannya apa ya?

Kalau 6 hal ini dibiasakan untuk kita pikirkan saat kita akan mengeluarkan kata-kata marah.. Hm, saya rasa setelah mendapatkan jawaban untuk 6 pertanyaan di atas, kita sudah malas untuk marah-marah. Bukan karena jawabannya, tetapi karena waktunya kelamaan ;) Pasti perlu lebih dari 100 detik untuk memikirkan jawaban dari 6 pertanyaan tadi. Dan biasanya kalau puncak kemarahan sudah lewat, hati sudah tidak bisa melawan otak untuk memerintahkan mulut mengeluarkan kalimat yang tidak perlu.

Intinya, akan sangat baik untuk menunda kemarahan. Sebenarnya bukan marahnya yang ditunda, tetapi ekspresi dari marah itu sendiri. Karena ekspresi marah yang tidak ditunda biasanya berakibat fatal dan penyesalan. Ini termasuk marah lewat e-mail atau sms lho.. karena bisa lebih gawat akibatnya. Saat membaca e-mail, apalagi sms, orang cenderung untuk salah membaca “nada”nya dan cenderung jadi salah mengartikannya. Penyesalannya pun biasanya jauh lebih besar. Karena saat tombol “send” terpencet, sudah tidak ada jalan untuk membatalkannya meskipun penyesalan datang sedetik kemudian. Efeknya pun akan jauh lebih lama karena bisa dibaca berulang-ulang oleh si penerima. Wah, cukup sering saya menyesali e-mail atau sms yang saya kirim saat saya marah. Tapi maaf, terlalu panjang kalau saya ceritakan lagi dalam blog ;)
Singkatnya, saat ini saya selalu mencoba untuk menunda ekspresi kemarahan saya selama 3 hari. Biasanya sih dalam waktu 1-2 hari saja marah saya sudah hilang atau malah sangat bersyukur bahwa saya belum sempat marah, karena sebelum 3 hari ternyata orang itu malah membuat perasaan saya sangat senang. Tetapi kalau dalam waktu 3 hari itu perasaan marah belum hilang dan hati serta otak masih menuntut kita untuk mengeluarkan atau mengirimkan kata marah, mungkin itu berarti bahwa kita memang harus marah dan mengekspresikannya. Jika memang demikian, just do it, marah lah.. dan.. good luck!