Lupakan Janjinya
A promise made is a debt unpaid.
Janji adalah hutang.. kalimat ini seringkali kita dengar di mana-mana. Benarkah ungkapan ini? Saya rasa semua orang akan setuju dengan kalimat ini. Tetapi pada akhirnya 80% janji di dunia ini tidak dapat terpenuhi. 80% hutang di dunia ini tidak dapat terbayar. Sekian banyak kekecewaan saya terhadap orang-orang yang melanggar janji mereka. Apakah hanya saya yang dikecewakan? Pertanyaan ini harus saya putar balikan.. Apakah sering saya mengecewakan? Tidak perlu waktu lama untuk menjawabnya. YA, itu jawabannya. Entah sudah berapa janji yang saya batalkan dengan berbagai alasan.. kondisi tidak memungkinkan.. dia terlebih dahulu melanggar janjinya.. saya batalkan janji itu demi kebaikan.. dll dsb..
Saya temui suatu kalimat yang terkesan konyol dan bersifat humoris, tetapi saya melihat makna kebenaran yang tersirat di dalamnya
Sometimes people make promises for the pleasure of breaking them. So, never say a serious promise, people will think that you mean it. The best way to keep a word is not to give it.
Tahun 2002, saat saya berada di “negri sebrang” ada seorang teman dekat saya yang memberikan sebuah janji kecil. Sebuah janji yang sebenarnya bukan suatu permasalahan besar bila tidak dipenuhi. Saat itu, saya telah melewati satu tahun penuh di negara itu untuk mempelajari “bahasa sebrang”
Hampir semua murid yang belajar bahasa di sana (termasuk saya) mempunyai buku kenangan yang bisa dikatakan sebagai testimonial book di mana orang-orang yang mengisinya bebas berkomentar tentang diri kita. Entah kenapa, teman saya itu tidak sempat mengisi buku saya, padahal buku saya ada di kamar dia lebih dari 3 hari sampai akhirnya dia harus pulang ke negaranya. Dia hanya menulis di secarik kertas yang berisi permintaan maaf karena tidak sempat mengisi buku saya.. karena terlalu banyak yang mau dia tulis katanya. Dan di secarik kertas itu dia tulis bahwa dia JANJI untuk menuliskan testimonial itu dalam bentuk surat yang akan dia kirim ke Jakarta. Ternyata setelah melewati satu tahun pun, dia tidak pernah mengirimkannya. Sebenarnya mungkin bukan hal yang aneh, karena dalam masa itu saya cukup sering (untuk ukuran SLI) menelponnya. Jadi ya apa gunanya lagi sebuah surat sih sebenarnya. Tetapi saat itu saya masih terpatok pada kata JANJI yang dia tulis di secarik kertas itu. Kalau janji yang diucapkan saja sudah bisa menjadi sebuah hutang, maka janji yang tertulis itu harusnya berupa hutang dengan agunan.. mungkin itu yang terlintas di otak saya saat itu. Alhasil, setelah lebih dari satu tahun, meskipun kami sebenarnya masih ada contact lewat telepon, saya tetap saja menjadi “mati rasa” dan tidak punya niat samasekali untuk keep contact dengan orang itu. Mungkin kalau diistilahkan dengan hutang, jatuh temponya sudah lewat dan sudah saatnya menyita agunan-nya
Sampai saat ini, saya tidak pernah lagi mau tau kabarnya, padahal akhirnya dua tahun lalu, tiga lembar surat dia “nyasar” juga ke rumah saya. Surat itu hanya saya baca tanpa respon sedikit pun. Kadang temannya yang juga teman saya, memberitau saya kalau dia sering membicarakan tentang saya dan menanyakan mengapa saya “menghilang”. Tetap saja saya cuek tanpa respon. Kalau dipikir sebenarnya aneh juga, karena temannya itu malah dulu tidak terlalu dekat dengan saya tetapi sampai sekarang kami malah masih cukup sering berhubungan. Mungkin itu karena diantara kami tidak pernah ada janji apapun.
Pengalaman dan pemikiran mendalam mengenai hal ini membuat saya menjadi sangat berhati-hati dengan kata janji. Kalau memang tidak perlu, mungkin lebih baik tidak mengeluarkan janji. Dan bila ada yang mengucapkannya, mungkin lebih baik bila saya pura-pura tidak mendengarnya. Ini lebih baik daripada kecewa di kemudian hari, karena apa pun kan bisa terjadi di dunia ini. Sehebat apapun usaha untuk memenuhi janji, selalu ada kemungkinan untuk sesuatu dan lain hal yang bisa membatalkannya.
The promise given was a necessity of the past, the word broken is a necessity of the present. Better break your word than do worse in keeping it.
Kalimat ini makin meyakinkan saya dengan apa yang telah saya simpulkan. So, if a promise made is a debt unpaid, don’t be a debt collector!