Semua ada yang atur.. Part 3
Setelah dua minggu absent dari kancah blog, saya dapatkan kembali “ilham” untuk menyambung cerita saya yang tertunda, “perjalanan hidup” saya yang telah diatur sedemikian rupa…
Bayangan kelam bekerja di sebuah cruise butut “memaksa” saya untuk putar haluan dari dunia perhotelan dan keluarga besar hospitality industry. Dengan sejumlah uang dolar yang saya kantongi, saya berniat untuk kembali ke Belanda untuk masuk lagi ke zona perkuliahan. Mengapa Belanda? Alasan pertama, saya suka belajar bahasa asing dan sudah tanggung sedikit bisa bahasa Belanda. Alasan kedua, untuk bisa kuliah di Belanda, saya harus mahir dulu bahasa Belanda yang berarti saya harus sekolah bahasa dulu sebelum kuliah yang sebenarnya. Sekolah bahasa tidak memakan waktu banyak setiap harinya sehingga saya bisa sekolah bahasa dulu sekitar 2 tahun sambil bekerja mengumpulkan uang. Alasan ketiga, beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa di Delft, Holland ada satu kampus yang sangat baik untuk jurusan IT, jurusan yang menjadi incaran saya. Mulailah saya mencari informasi dan mengirimkan aplikasi pendaftaran melalui internet. Setelah melalui proses penungguan 2 bulan, akhirnya Univ Delft memberikan kabar yang sangat “sederhana”. Saya tidak dapat diterima di sana karena jurusan yang saya ambil di SMA adalah A3 (ekonomi). Hm.. kalau itu alasannya, kenapa ya mereka tidak langsung tolak saja saat awal saya kirimkan aplikasi. Sudah jelas tertulis kalau memang saya dari jurusan ekonomi, untuk apa juga diproses sampai 2 bulan untuk menentukan hasilnya..
Saya sempat bingung harus bagaimana lagi. Kalau memang saya tidak bisa mengambil jurusan IT karena lulusan A3 berarti di mana pun tidak bisa, bukan hanya di Belanda. Sasaran saya berikutnya adalah bahasa. Salah satu bahasa yang sejak dulu ingin saya pelajari adalah bahasa mandarin. Jadilah China menjadi target petualangan saya berikutnya. Tepat sekali saat itu ada teman yang bisa membantu pendaftaran dan keberangkatan saya ke China untuk sekolah bahasa di sana meskipun sebenarnya saat itu sudah lewat batas waktu pendaftaran untuk sekolah-sekolah bahasa di sana. Setahun saya habiskan untuk belajar di kota Beijing. Memang hanya “jatah” waktu setahun itu lah yang saya punya menilik dari kondisi keuangan saya. Waktu setahun itu saya pergunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil maksimal, lompat kelas 1 tingkat ditambah mempelajari bahasa “ajaib” lainnya yaitu Thailand yang menjadi mayoritas teman-teman saya di sana.
Sepulang dari China, dengan modal bahasa mandarin dan ijazah seadanya, saya “nekad” untuk mencari pekerjaan di Singapore, negara di mana kakak saya bekerja. Satu setengah bulan saya habiskan di sana dengan melewati entah berapa puluh kali interview. Sebenarnya cukup banyak tempat yang mau menerima saya, tetapi pada akhirnya selalu terbentur pada masalah izin kerja yang sulit karena kualifikasi saya yang tanggung, tidak cukup untuk memperoleh Employment Pass yang memerlukan kata “bachelor” pada ijazah saya, tetapi terlalu tinggi untuk hanya mendapatkan Working Permit yang ditujukan untuk para buruh pabrik atau pembantu rumah tangga.
Kesadaran untuk kembali ke Jakarta dan mulai mencari pekerjaan yang benar dan stabil di Indonesia timbul saat mendengar pernyataan seorang interviewer saya di Singapore saat melihat CV dan lampiran-lampiran sertifikat yang saya miliki. Pernyataannya sebenarnya cukup sederhana dan tidak bermaksud apa apa.. “Wah.. your father must be very rich. I see that you have travelled all around the world.” Saya cuma terdiam saat itu. Pernyataan spontan, sederhana tapi sempat mebuat jantung saya “melompat” sesaat dan memaksa otak saya untuk berpikir keras. My father.. very rich? Dia sudah tenang di alam sana sejak saya di SMP 3.. My mother? Dia hanya melanjutkan usaha elektronik dari papa saya yang semakin menyusut karena penggusuran yang sebenarnya sudah dapat diprediksi karena posisinya memang di jalur rencana tol dalam kota, menyusut lagi saat perpindahan kedua karena habis masa kontrak, dan pada akhirnya harus benar-benar tutup karena kerusuhan 1997. My brother? Dia masih menata hidupnya di Singapore dan mempersiapkan diri dan “sejumlah uang” untuk getting married. Me? Hm.. seorang anak tidak tau diri yang “menghabiskan” sejumlah uang untuk “travelled around the world” ?? No way! Tidak bisa dibiarkan. Saya harus kembali ke Jakarta, go back to reality, mencari hidup yang stabil dan benar di sini.
Rasa anti saya akan hospitality industry belum hilang. Sambil mencari pekerjaan, saya sempat memberikan kursus privat mandarin ke 4 orang siswa SMU. Lamaran demi lamaran saya kirimkan sampai akhirnya saya mendapatkan posisi sebagai Management Trainee di salah satu distributor besar handphone dan kelengkapannya di Jakarta. Saya menyerah tanpa syarat setelah saya harus melewati sekian lama bertugas bolak-balik mengawasi 9 outlet yang menjadi tanggung jawab saya yang berlokasi di daerah seputar Blok M, Senayan, Pondok Indah, Lebak Bulus, Bintaro, dan Cinere. Habislah uang saya untuk bensin selama perjalanan dari Cengkareng - absen masuk di Tanah Abang (kantor pusat) - outlets di daerah selatan sana - kembali ke Tanah Abang untuk absen pulang - Cengkareng (home sweet home). Belum lagi jalan yang harus saya lalui adalah jalur jalur macet dan saya sering nyasar karena tidak bisa menghafal jalan
Alhasil, saya tinggalkan PT itu dengan pengalaman kerja akhir di supervisory level.
Kembali saya memberikan kursus privat mandarin ke beberapa kelompok. Pekerjaan yang cukup menyenangkan sebenarnya. Mungkin “cita-cita” saat saya SD untuk menjadi guru itu memang berasal dari dasar hati saya. Tetapi kursus tidak bisa saya jadikan pegangan karena peserta kursus bisa saja berhenti kapan saja mereka mau. “Stress” perjalanan panjang di pekerjaan terakhir membuat lokasi dan kode pos menjadi prioritas utama saya saat melihat iklan lowongan di koran sampai suatu saat saya menemukan lowongan Supervisor yang berlokasi di Soekarno-Hatta. Ternyata.. yang di cari adalah supervisor untuk salah satu cafe di bandara. Hm.. F n B Spv? Well, iseng saja saya kirimkan karena lokasinya hanya 15 menit dari rumah. Saya sih tidak berharap akan mendapatkannya karena saya belum pernah punya pengalaman di supervisory level untuk F n B dan bidang itu sudah saya tinggalkan cukup lama.
Ternyata saya diterima di sana karena beberapa alasan.. Rumah saya yang dekat dengan tempat kerja menjadi prioritas utama mereka karena jam kerja yang cukup “ajaib”. Bahasa mandarin bisa membantu saya untuk berkomunikasi karena guest di situ sangat international. D3 perhotelan dan pengalaman di supervisory (meskipun lain bidang) pun akhirnya membawa saya kembali ke hospitality industry di sana. Sebuah cafe yang sangat sederhana bila tidak bisa dikatakan sebagai “toko kelontong”.. dengan profit margin yang sangat sangat tinggi. Saya sempat “tertidur” dengan pendapatan saya yang cukup tinggi di sana apalagi setelah saya mendapatkan promosi sebagai Assistant Manager. Saya “terbangun” saat saya mengikuti meeting seorang teman dekat saya dengan para supervisornya yang juga berkecimpung di F n B. Pembicaraan para supervisor tidak bisa dimengerti sepenuhnya oleh saya yang mengaku seorang asmen. Jujur, tingkat pengetahuan saya sebagai asmen “toko kelontong” jauh di bawah mereka yang benar-benar F n B Spv. Teman saya meminta saya melihat 3 tahun ke depan, dan bertanya bagaimana kira-kira posisi dan penghasilan saya saat itu di sana. Saya berpikir dan menjawab.. tidak akan jauh berbeda atau mungkin tidak berubah sedikitpun. Dia gambarkan apa yang akan diraih oleh para spv-nya 3 tahun ke depan. Saya bayangkan hidup teman saya itu 3 tahun ke belakang, dan menjadi sangat yakin dengan apa yang dia katakan. Dia start dengan penghasilan yang jauh di bawah saya. Tetapi saat ini… dia sudah berada di tingkat posisi, pengetahuan, skill, dan penghasilan yang sangat jauh di atas saya.
Saya harus benar-benar “bangun” dari “mimpi indah” sesaat yang tidak akan pernah berkembang. Awal Oktober 2005 saya tinggalkan “toko kelontong” yang menamakan dirinya cafe dengan penghasilan dan profit margin yang wah tadi. Mulailah saya menggiatkan diri lagi membaca lembar demi lembar iklan lowongan di koran. Sangat tidak mudah.. mungkin kualifikasi saya membuat orang bingung. Pengalaman “internasional” tetapi hanya di entry level. Bukan sarjana, hanya diploma holder dengan cukup banyak certificate. Pengalaman supervisory di bidang yang tidak sesuai dengan education background, pengalaman managerial di bidang yang sudah sejalan dengan education tetapi belum sampai ke levelnya. Jangankan para pencari tenaga kerja ataupun interviewer, saya sendiri pun bingung di mana dan bagaimana seharusnya saya menempatkan diri saya. Ternyata lulusan D3 dari kampus yang cukup ternama dengan nilai cum laude sebagai salah satu peraih beasiswa karena prestasi, pemegang sejumlah sertifikasi lokal dan internasional dengan kemampuan beberapa bahasa (tingkat rendah), pengumpul beberapa piagam penghargaan di China karena tingkat kerajinan, bakat, dan prestasi… harus menghadapi kenyataan hidup bahwa dunia nyata dan dunia kerja itu tidak sama dengan teori-teori yang cukup dihafalkan. Saat itu saya benar-benar merasa sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang tepat. Mungkin bukan sulit… tapi para employer dan diri saya sendiri pun tidak tau apa pekerjaan dan posisi (serta gaji) yang tepat untuk orang seperti saya.
Penghujung tahun 2005, persis tanggal 31 Desember.. sebuah iklan di koran menarik perhatian saya. Sesuatu yang sepertinya sangat pas dan memang ditujukan untuk saya. Kali ini saya kirim aplikasi via e-mail dengan niat total, bukan hanya “iseng” seperti yang sering saya lakukan. Real F n B industry.. Saya sudah tidak bisa anti dengan F n B. Saya harus kembali ke “jalan yang benar” sesuai bidang ilmu (dan hasil psikotest) saya. Pengalaman terakhir sebagai asmen “cafe” di bandara dan sedikit kemampuan berbahasa mandarin serta kerelaan saya untuk menerima penghasilan jauh di bawah tempat kerja saya yang terakhir sebagai start awal, membawa saya untuk “berjalan-jalan” lagi ke Taiwan. Saya diterima di perusahaan tersebut dan mereka mengirim saya untuk training ke Taipei yang menjadi pusat dari fanchise coffee shop milik perusahaan itu. Hm.. ke luar negri lagi.. Is my father very rich?? No.. tetapi entah “Siapa” lagi yang mengatur saya untuk kembali “travel around the world.”
Saat ini saya masih berjuang membangun coffee shop tersebut dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang saya miliki. Tetapi bila teman saya bertanya lagi bagaimana saya melihat diri saya sendiri 3 tahun ke depan di sana.. kali ini mungkin saya berani menjawab.. akan jauh lebih baik dari sekarang. Restaurant Manager? Operational Manager? General Manager? Hm.. sepertinya tidak.. Executive Trainer atau Training Director yang handal.. posisi ini terdengar jauh lebih indah di kuping saya dibandingkan dengan posisi-posisi yang saya sebutkan sebelumnya. Mungkin cita-cita polos seorang anak SD untuk menjadi seorang “guru” itu lah yang memang berasal dari lubuk hati saya yang paling dalam. Suatu kesenangan tersendiri buat saya untuk bisa membagi ilmu dan “teori” yang ada di kepala saya dengan orang lain, dan akan menjadi kebahagiaan yang mendalam saat bisa melihat kesuksesan seseorang yang berhasil meraih suksesnya dengan menerapkan ilmu dan “teori” yang saya bagikan. Apakah ini bisa terwujud? Mungkin bisa.. bila ada salah satu share holder yang membaca blog ini
Dan yang pasti.. kalau ada yang mengaturnya ke arah sana, karena.. dalam hidup saya, semua ada yang atur.